Daftar Blog Saya

18.4.12

Metafisik Filsafat


A.    PENDAHULUAN
Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, memaparkan bahwa filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu, seperti objek apa yang ditelaah oleh ilmu? (ontologi), bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? (epistemology), dan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? (aksiologi).
Ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini begitu banyak, sehingga untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dengan pengetahuan yang lainnya, yaitu dengan mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan di atas, maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaannya secara maksimal namum terkadang kita salah dalam menggunakannya.
Bidang telaah dari filsafat adalah segala persoalan yang dipikirkan oleh manusia. Manusia mengkaji segala hal yang ada disekitarnya. Persoalan keberadaan dan eksistensi yang berkaitan dengan metafisika, persoalan pengetahuan, dan persoalan nilai-nilai. Berdasarkan pemaparan di atas, kami akan membahas metafisika dalam hal: hakikat metafisika dan tafsiran metafisika.

B.     PEMBAHASAN
1.      Metafisika
Landasan ontologi menurut Jujun S. Suriasumantri dalam buku Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer  membaginya dalam lima bagian, yaitu metafisika, asumsi, peluang, beberapa asumsi dalam ilmu dan batas-batas penjelajahan ilmu.
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang hakikat yang ada.
Ontologi merupakan salah satu di antara lahan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan bersifat ontologis, yaitu Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya kebanyakan orang belum dapat membedakan antara penampakan (apreance) dengan kenyataan (reality).
Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan.
Bagian ontologi adalah metafisika. Secara etimologi metafisika berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu meta (setelah atau di balik) dan physika (hal-hal di dalam), sehingga dapat disimpulkan bahwa metafisika merupakan studi yang membahas “di balik yang ada”. Penyelidikan metafisika mula-mula hanya mencakup sesuatu yang ada di belakang atau di balik benda-benda fisik, tetapi berkembang menjadi penyelidikan terhadap segala sesuatu yang ada. Filsafat pertama ini memuat uraian tentang segala sesuatu yang ada di belakang gejala-gejala fisik seperti bergerak, berubah, hidup, dan mati.
Metafisika sudah banyak didefinisikan oleh para filsuf sejak zaman Yunani. Berdasarkan artikel yang berjudul Definisi Metafisika dalam Ranah Filsafat, Siswanto memaparkan beberapa definisi filsof tentang metafisika, diantaranya:
·         Ariestoteles
                 metafisika adalah cabang filsafat yang mengkaji yang ada sebagai yang ada;
·         Van Peursen
      metafisika adalah bagian filsafat yang memusatkan perhatiannya kepada pertanyaan mengenai akar terdalam yang mendasari segala yang ada.
            Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya memaparkan bahwa bidang telaah filsafat yang disebut metafisika merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk pemikiran ilmiah (1982:63).  Tafsiran yang paling pertama diberikan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat wujud-wujud bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan alam nyata. Animisme merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supranaturalisme. Manusia percaya bahwa terdapat roh-roh yang bersifat gaib terdapat dalam benda-benda seperti batu, pohon, dan air terjun.
            Ditinjau dari segi filsafat secara menyeluruh metafisika adalah imu yang memikirkan hakikat di balik alam nyata. Metafisika membicarakan hakikat dari segala sesuatu alam nyata tanpa dibatasi pada sesuatu yang dapat diserap oleh pancaindra (Susanto,2010:93).  


2.      Tafsiran Metafisika
Tafsiran yang paling pertama diberikan oleh manusia terhadap alam ini terdapat wujud-wujud bersifat gaib (supranaturalisme) dan wujud-wujud ini bersifat lebih tinggai atau lebih kuasa dibandingkan alam yang nyata (Jujun S. Suriasumantri, 2007:64). Animisme merupakan contoh kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supernaturalisme.
Sebagai lawan dari supranaturalisme maka terdapat paham naturalisme. Paham ini menolak pendapat bahwa terdapat wujud-wujud yang bersifat supernatural. William R. Dennes seorang penganut paham ini mengatakan, ketika berpendirian bahwa apa yang dinamakan kenyataan pasti bersifat kealaman. Apa pun yang bersifat nyata pasti termasuk dalam kategori alam. Artinya apa pun yang bersifat nyata pasti merupakan sesuatu yang terdapat dalam ruang dan waktu tertentu dan dapat dijumpai oleh manusia, dan dapat pula dipelajari dengan cara-cara yang sama seperti yang dilakukan oleh ilmu.
Paham yang menganut paham naturalisme ini adalah materialisme. Materialisme merupakan paham yang terdapat bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan gaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri. Tokoh pengembang paham materialisme ini adalah Democritos.
Pandangan baru pun muncul untuk menentang paham naturalisme dan materialisme, yaitu paham mekanistik dan vitalistik. Kedua pandangan ini mengaitkan dengan keberadaan makhluk hidup termasuk manusia itu sendiri. Kaum mekanistik melihat gejala alam ini (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia-fisika semata. Gejala alam dapat didekati dari segi proses kimia-fisika.
Sedangkan kaum vitalistik berpandangan hidup adalah sesuatu yang unik, yang berbeda secara substansif dengan proses di atas. Orang-orang yang mempercayai adanya kekuatan atau energi tertentu dalam setiap tubuh makhluk hidup beranggapan bahwa kehidupan dimulai atau diawali dari kombinasi zat yang sangat kompleks.
Proses berpikir manusia menghasilkan pengetahuan tentang zat (objek yang ditelaahnya). Dalam hal ini terdapat dua pandangan yang berbeda, yaitu paham monistik dan paham dualistik. Menurut paham monistik tidak ada yang membedakan antara pikiran dan zat. Kedua hal itu berbeda dalam gejala yang disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama.
Paham  ini ditolak oleh paham dualistik yang  membedakan antara zat dan kesadaran yang menurut mereka berbeda secara substansif. Aliran ini berpendapat bahwa yang ditangkap oleh pikiran adalah bersifat mental, maka yang  bersifat  nyata adalah pikiran, sebab dengan berpikirlah maka sesuatu itu lantas ada. Aliran dualistik memandang bahwa alam terdiri dari dua macam hakikat sebagai sumbernya, yaitu materi dan bentuk. Materi adalah kenyataan yang belum berwujud yang belum ditentukan, tetapi yang memiliki potensi untuk menjadi terwujud atau menjadi ditentukan oleh bentuk, karena kekuatan yang membentuknya. Sedangkan bentuk adalah pola segala sesuatu yang tempatnya di luar dunia, yang berdiri sendiri (Susanto, 2010: 96-97).
Salah satu penganut paham dualistik adalah Descartes yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua substansi, yaitu materi dan ruh atau tubuh dan jiwa. Istilah yang terkenal dari Descartes adalah “Cogito ergo sum” yang artinya saya berpikir maka saya ada.
Susanto dalam bukunya Filsafat Ilmu, menyatakan bahwa Christian Wolff membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum yang dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi (2010:91). Dengan demikian metafisika umum adalah cabang ilmu filsafat yang membicarakan prinsip paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu. Metafisika khusus terbagi menjadi kosmologi, psikologi, dan teotologi. Kosmologi adalah cabang ilmu fiilsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta. Psikologi adalah cabang ilmu filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia. Teologi adalah cabang ilmu filsafat yang membicarakan Tuhan.

C.    KESIMPULAN
Ontologi merupakan cabang filsafat ilmu yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada Pembahasan ontologi dibagi menjadi lima bagian, yaitu metafisika, asumsi, peluang, beberapa asumsi dalam ilmu, dan bata-batas penjelajahan ilmu.
Metafisika adalah salah satu pembahasan bagian dari ontologi yang membahas hal-hal yang berada di belakang gejala-gejala yang nyata tanpa dibatasi pada sesuatu yang diserap oleh pancaindra. Metafisika berawal dari paham supranaturalisme, yang pada ahirnya melahirkan paham yang lain, yaitu naturalisme, materialisme, mekanistik, vitalistik, monistik, dan dualistik.
Pada hakikatnya ilmu tidak bisa dilepaskan dari metafisika, namun seberapa jauh kaitan itu semua tergantung kepada kita. ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menafsirkan alam ini sebagaimana adanya. Pada dasarnya tiap ilmuwan boleh mempunyai filsafat individual yang berbeda-beda. Bisa menganut paham mekanisti, paham dualistic ataupun paham yang lain. Titik pertemuan kaum ilmuwan dari semua ini adalah sifat pragmatis dari ilmu itu sendiri.
D.       DAFTAR PUSTAKA
S. Suriasumantri, Jujun. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Susanto. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: Bumi Aksara.
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas UGM. 2003. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
Wikipedia.2011. Metafisika. www.wikipedia.org.com (tanggal browsing: 18 September 2011).
___________. Artikel “Definisi Metafisika dalam Ranah Filsafat”. www. Aprilins.com/2009/1152/ (tangal browsing 18 September 2011).

Tidak ada komentar: